Selasa, 16 September 2014

ASET KEUANGAN2


ASET KEUANGAN 2
ALIA SUGENG RAHAYU
120413403084
Segala sesuatu pasti memiliki fungsi, begitu juga asset keuangan. Fungsi dari asset keuangan, antara lain:
a.         Sebagai alat untuk memindahkan dana dari dana masyarakat yang kelebihan dana kepada masyarakat yang membutuhkan untuk investasikan dalam asset berwujud. Dalam pemindahan dana disini telah terjadi transaksi antara debitur dengan kreditur dengan perjanjian-perjanjian tertentu.
b.        Sebagai alat membagi-bagi risiko melaluipemindahan antara mereka (debitur dan kreditur) yang menyediakan dana dan mereka yang membutuhkan dana.
c.         Sebagai alat untuk penyimpanan dana. Fungsi ke tiga ini bisa dikatakan asset keuangan berfungsi sebagai tabungan, di mana seperti kita menyimpan uang di bank.
Prinsip dasar ekonomi menyatakan bahwa harga setiap asset keuangan sama dengan nilai yang berlaku sekarang atau sering disebut present value dari arus kas yang diharapkan, meskipun arus kas tersebut tidak diketahui secara pasti. Dengan kata lain harga setiap asset keuangan selalu mengikuti perkembangan jaman, nilainya setiap tahun selalu berubah. Misalnya harga asset sekarang sebesar 100 US$ tetapi apabila tahun depan harga asset 200 US$ maka harga asset yang berlaku sebesar 200 US$ pula.
Yang berhubungan dengan konsep harga adalah pendapatan atau pengembalian yang diharapkan dari suatu asset keuangan. Sedangkan yang menentukan tingkat kepastian dari arus kas yang diharapkan adalah karakteristik emitennya.
Dalam transaksi apapun pasti ada suatu risiko yang akan diterima, seperti halnya dalam asset keuangan. Risiko-risiko yang terkandung dalam asset keuangan, antara lain:
a.         Risiko yang berkenaan dengan daya beli potensial dari arus uang yang diharakan. Risiko ini dinamakan risiko daya beli atau risiko inflasi. Hal ini berarti apabila terjadi inflasi maka harga dari asset keuangan akan naik sehingga daya beli dari masyarakat yang kekurangan dana akan mengurang.
b.        Risiko ketidakmampuan emiten atau peminjam memenuhi kewajibannya. Risiko ini disebut risiko kredit atau risiko kelalaian.
c.         Risiko nilai tukar. Risiko ni timbul apabila melakukan investasi pada mata uang asing, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara lain. Apabila nilai tukar berubah kearah negatif maka negara yang akan menerima uang akan menerima uang tersebut sedikit.




REFERENSI  :
Darmawi, Herman. 2006. Pasar Finansial dan Lembaga-Lembaga Finansial. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Antika, Devi. 2011. PI Aset Keuangan. (Online) http://deviantika.blogspot.com.2011.12.pi-aset-keuangan_16.html, diakses tanggal 14 September 2014.
Azar. 2010. Mengenal Aset Keuangan. (Online) http://ug-azar.blogspot.com/2010/03/mengenalasetkeuangan_12.html, diakses tanggal 09 September 2014.
Read more »

Selasa, 09 September 2014

Aset keuangan



ASET KEUANGAN
ALIA SUGENG RAHAYU
120413403084
            Dalam suatu perusahaan bahkan suatu negara pasti mempunyai hal yang bernama aset. Suatu perusahaan maupun negara bisa berjalan karena mempunyai aset. Aset merupakan sesuatu yang sangat penting. Pengertian aset secara sempit adalah kekayaan yang dimiliki, sedangkan arti aset secara luasnya adalah suatu kekayaan yang mempunyai nilai tukar atau harga sehingga dapat dijual dan mendapatkan uang.
            Aset dibagi menjadi 2, yaitu:
1.        Aset berwujud
Aset berwujud merupakan aset yang nilainya sesuai dengan wujudnya atau aset yang terlihat nilainya (konkrit). Aset berwujud disebut juga aset riil. Contoh: bangunan, mesin, kendaraan, dll.
2.        Aset tidak berwujud
Aset tidak berwujud merupakan aset yang nlainya tidak sesuai dengan wujudnya atau aset yang tidak terlihat nilainya (abstrak). Contoh: aset berupa dokumen atau surat berharga seperti saham, obligasi, dll.
Aset keuangan merupakan bagian dari aset tidak berwujud karena manfaat atau nilai asetnya digunakan untuk masa yang akan datang dan nilai dari dari aset tersebut selalu berubah-ubah. Dalam aset keuangan bukti transaksi dan kepemilikan diberi wujud. Pihak yang bermain dalam transaksi aset keuangan yaitu emiten dan investor. Emiten adalah pihak yang melakukan pembayaran hutang di masa yang akan dating. Investor adalah pihak pemilik dari aset keuangan.
Karakteristik dari aset keuangan, antara lain:
1.        Tidak memberikan suatu jasa secara terus menerus kepada pemiliknya
2.        Menjanjikan pendapatan di masa mendatang
3.        Dapat dijadikan sebagai penyimpan nilai
4.        Dapat meningkatkan kemampuan daya beli
5.        Tidak mengalami depresiasi atau penyusutan
6.        Bentuk fisiknya tidak dapat digunakan untuk menilai harga pasarnya
7.        Umumnya berbentuk sertifikat atau informasi yang disimpan dalam computer
8.        Biaya transportasi atau penyimpanan relatif murah
9.         Mudah dialihkan menjadi aset lain atau dipecahkan
10.    Lebih mudah untuk dipasarkan
11.    Sebagai alat pembayaran disebut uang tetapi aset keuangan lainnya yang bukan uang uang namun dapat digunakan sebagai ala pembayaran.
Jenis dari aset keuangan, antara lain:
1.        Uang tunai (cash). Setiap aset finansial yang dapat terima sebagai pembayaran dalam pembelian barang dan jasa dapat disebut uang.
2.        Simpanan pada bank, seperti giro, deposito berjangka, tabungan, dan lain-lain. Aset keuangan ini mudah untuk di cairkan atau diuangkan.
3.        Ekuitas atau saham, merupakan suatu surat berharga yang menggambarkan bukti kepemilikan langsung atas suatu perusahaan. Semakin besar nilai saham dimilii maka semakin besar pula kepemilikan atas perusahaan tersebut.
4.        Surat hutang, yaitu semua surat berharga yang mempunyai sifat hutang seperti obligasi.
5.        Unit penyertaan atau unit saham reksadana yang bukan merupakan bukti langsung kepemilikan suatu perusahaan.
  




REFERENSI  :
Siamat, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan; Kebijakan Moneter dan Perbankan (edisi 5). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Azar. 2010. Mengenal Aset Keuangan. (Online) http://ug-azar.blogspot.com/2010/03/mengenalasetkeuangan_12.html/ , diakses tanggal 09 September 2014.
Darmawi, Herman. 2006. Pasar Finansial dan Lembaga-Lembaga Finansial. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Read more »

Minggu, 31 Agustus 2014

Sistem keuangan2


SISTEM KEUANGAN
ALIA SUGENG RAHAYU
       Dalam sistem keuangan terjadi interaksi antara unsur-unsur system tersebut. Unsur-unsur tersebut antara lain:
a.         Rumah tangga
Merupakan para pelaku dalam sistem keuangan di mana ada pihak yang kekurangan dana atau peminjam dan pihak yang kelebihan dana atau penabung. Rumah tangga dalam sistem keuangan dapat berupa individual maupun organisasi atau perusahaan.
b.        Lembaga pemerintah
Merupakan lembaga yang mengatur perekonomian suatu Negara dengan peraturan perundang-undangan yang sudah dibuat. Pemerintah di sini berkewajiban memberikan sarana dan prasarana untuk memperlancar dan mengembangkan perekonomian masyarakat.
c.         Lembaga keuangan
Merupakan badan usaha yang memberikan kredit kepada nasabah dan menanamkan dan hanya dalam surat berharga. Lembaga keuangan juga memberikan jasa keuangan antara lain simpanan, kredit, proteksi asuransi, program pensiun, penyediaan mekanisme pembayaran, dan mekanisme transfer dana.
Lembaga keuangan memiliki peran pokok dalam proses pengalihan dana dalam perekonomian. Pengalihan dana ini dilakukan dengan cara membeli sekuritas primer yang diterbitkan oleh unit defisit atau unit peminjam dan dalam waktu yang sama mengeluarkan sekuritas sekunder kepada penabung atau unit surplus. Sekuritas primer antara lain dapat berupa saham, obligasi, commercial paper, dan sebagainya. Sedangkan sekuritas sekunder dapat berupa simpanan dalam bentuk giro, tabungan, deposito berjangka, serifikatdeposito, polis asuransi, dan sebagainya. Bagi penabung simpanan tersebut merupakan aset finansial, sedangkan bagi bank merupakan utang.
Lembaga keuangan dalam melaksanakan tugasnya dihadapkan pada beberapa risiko. Risiko ini antara lain:
1.    Credit risk atau risiko kredit. Risiko ini terjadi apabila jumlah arus kas yang seharusnya diterima, yang berasal dari kredit yang diberikan dan atau surat-surat berharga yang dimiliki. Apabila semua nilai nominal kredit atau surat-surat berharga dibayar lunas pada saat jatuh tempo dan pembayaran bunga dilakukan secara periodic sesuai perjanjian, berarti lembaga keuangan tidak menghadapi risiko kredit.   
2.    Liquidity risk atau risiko likuiditas. Risiko ini terjadi apabila lembaga keuangan tidak memiliki dana untuk memenuhi semua penarikan oleh deposan, pemegang polis, atau pemegang unit penyertaan rekan dana terbuka.
3.    Interest rate risk atau risiko tingkat bunga. Risiko ini terjadi apabila jatuh tempo atas lembaga keuangan mengalami ketidaksesuaian jatuh tempo asset dengan kewajibannya.
4.    Market risk atau risiko pasar. Risiko ini bias terjadi apabila lembaga keuangan secara aktif memperdagangkan berbagai instrument, termasuk derivative, dibanding kalau hanya menahannya untuk investasi jangka panjang.
5.    Off Balance Sheet risk. Kegiatan ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh lembaga keuangan yang tidak terlihat atau tercatat dalam neracanya karena kegiatan ini tidak menyebabkan dan melibatkan terjadinya kepemilikan suatu aset atau penerbitan instrument utang.
6.    Foreign exchange risk atau risiko nilai tukar. Risiko ini terjadi apabila nilai tukar mengalami perubahan berlawanan yang mempengaruhi nilai aset dan liabilities lembaga keuangan.
7.    Country risk atau sovereign risk. Risiko ini terjadi apabila aset luar negeri yang dimiliki lembaga keuangan, misalnya surat berharga A yang diterbitkan suatu korporasi di luar negeri, tidak dapat dibayarkan atau diterima kembali sebagian atau seluruhnya oleh lembaga keuangan tersebut akibat negara atau pemerintah di mana perusahaan penerbit surat berharga A tersebut membatasi atau melarang pembayaran kembali karena terjadi kekurangan devisa atau adanya alas an politis lain.  
8.    Operational risk atau risiko operasi. Risiko ini dapat berasal dari adanya kegagalan/ kerusakan/ gangguan terhadap tehnologi atau dukungan system dalam kegiatan operasional lembaga keuangan.
9.    Insolvency risk. Risiko ini terjadi apabila ketika modal lembaga keuangan tidak mencukupi untuk menutupi semua kerugiannya.
d.        Pasar keuangan
Adalah pasar di mana aset keuangan diterbitkan dan diperdagangkan. Pasar keuangan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, antara lain:
1.    Deptmarket, merupakan pasar yang memperjualbelikan instrument utang.
2.    Equity market, merupakan pasar yang memperjualbelikan klaim kepemilikikan.
3.    Capital market, merupakan pasar yang memperdagangkan surat-surat berharga jangka panjang, yaitu di atas 12 bulan.
4.    Primary market, merupakan pasar di mana perusahaan-perusahaan menerbitkan instrument keuangan yang baru pertama kalinya dijual atau ditawarkan.
5.    Secondary market, merupakan pasar yang memperdagangkan instrument keuangan yang sebelumnya dijual di pasar perdana.
6.    Cash market, merupakan pasar yang pada saat transaksinya langsung dilakukan pembayaran dan serah terima aset keuangan.
Sistem keuangan di Indonesia terdiri atas:
a.         Otoritas keuangan
Otoritas keuangan memiliki peran dalam pengaturan dan pengawasan di bidang keuangan dan perbankan.
b.        Bank Indonesia
BI merupakan Bank Sentral Republik Indonesia yang merupakan lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan pemerintah dan pihak-pihak lainnya sesuai UU no. 3 Tahun 2004.
c.         Department keuangan
Merupakan lembaga pemerintah yang melakukan pengaturan dan pengawasan di bidang Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB).
d.        Lembaga Penjamin Simpanan
Merupakan lembaga keuangan yang berstatus independent yang tugas pokoknya member jaminan atas simpanan kepada nasabah bank.







REFERENSI  :
Siamat, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan; Kebijakan Moneter dan Perbankan (edisi 5). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Bukhari, Subroto. 2012. Stabilitas Sistem Keuangan.  http://bagiinfokuliah.blogspot.com/2012/05/stabilitas-sistem-keuangan.html, diakses tanggal 26 Agustus 2014.
Hasni, Ardilla dkk. 2013. Sistem Keuangan Indonesia. http://ampundeh.wordpress.com/2013/06/24/sistem-keuangan-indonesia/ , diakses tanggal 31 Agustus 2014.




Read more »